Memilih Knalpot Yang Sesuai Untuk Matic

knalpot-matik

Desain knalpot satandar pada sepeda motor matik, umumnya pada bagian perut besar dan ujung pembuangannya kecil. Dengan desain seperti itu, maka turbulensinya akan kuat. Tarikan matik sejak awal akan lebih enteng. Kompresi di ruang bakar, dibantu oleh tekanan balik dari knalpot ini. Seperti pribahasa “Mudah memancing di air keruh” 😀 . Maksudnya, reaksi tenaga awal akan lebih mantap dan umur komponen panjang.

Pabrikan dengan sengaja mendesainnya seperti itu. Jika menginginkan knalpot racing harian, bikers dapat membeli knalpot yang modelnya tidak jauh dari  standar. Carilah knalpot racing yang prinsip modelnya sama. Tenaga akan melambung, tapi tanpa menghilangkan reaksi tenaga awal.

Penting untuk diperhatikan bila terlalu free flow (dari perut knalpot sampai ujung lubang nyaris sama besarnya), hal ini sangat jelas akan mempunyai kekurangan. Akan perlu meraung-raung terlebih dulu alias rpm besar dan skubek baru akan bergerak. Tadinya 1.000 rpm telah jalan, kini dia atas itu. Berarti, jam hidup komponen lebih singkat. Berbeda dengan ajang balapan, justru knalpot seperti itu yang dibutuhkan.

Cara kerja knalpot racing yang bagus, akan memberikan daya balik ke ruang bakar. “Tabungnya berfungsi mengolah udara buang sekitar 30-40 persen,” bilang Sjafri Gani, seorang pembuat knalpot racing R9.

Ya, iyalah. Pembuangan seperti ditahan. Tidak langsung dilepas. Pusaran di perutnya yang buncit itu, akan kembali berputar ke ruang bakar membantu piston turun-naik. Makanya, “Cari knalpot yang mirip desain standar,” tambah Uwok yang mengaku terus menyempurnakan kanalpot mirip standar, tapi  bertenaga.

Dalam memilih knalpot racing harian, bisa pertimbangkan diameter pipanya. Besar kecilnya pipa, harus disesuaikan dengan kapasitas mesin. “Untuk matik kapasitas standar, bisa pilih ukuran pipa yang lebih kecil. Diameter dalam sekitar 22 milimeter. Sementara, diameter luar sekitar 1 inci,” kata Uwok.

Berbeda dengan pemakaian yang memang diproyeksikan untuk ajang balapan. Atau mesin yang sudah berkapasitas besar yang telah dikorter. Adapun model free flow yang pas untuknya adalah yang memiliki diameter besar dan bertingkat. Maksudnya dari leher, perut dan silincer bertingkat diameternya. Itu untuk balap. “Kalau harian kan lebih pada sebatas penampilan, tapi gak salah juga kalau tetap bertenaga,” tutup Uwok.

Sumber: motorplus