SABER : Tips Antisipasi Terkena Ranjau Paku

ranjau-paku

Pergerakan itu dimulai dari idealis dan kepedulian. Melihat semakin banyak bikers yang menjadi korban jalanan, khususnya ban kempes akibat ulah oknum penyebar paku yang hanya mengeruk keuntungan pribadi semata. Siswanto, Abdurrahim dan Endang terpanggil untuk mendirikan komunitas Sapu Bersih Ranjau Paku (SABER).

SABER resmi berdiri pada 5 Agustus 2011 di Jakarta Barat, setelah sebelumnya ketiga orang tersebut bergerak dengan caranya sendiri menyapu ranjau paku secara suka rela, sebab tidak ada yang menggajihnya. Padahal kalau bicara manfaat, semua pengguna jalan merasakan jerih payah kerja sosial mereka dari sindikat penyebar paku, yang disinyalir bekerjasama dengan bengkel tambal ban.

Kami bergerak murni untuk membantu sesama pengguna jalan. Fakta yang ada, pengguna sepeda motor yang terkena ranjau paku bukan hanya korban material saja. Saat bikers menambal ban, aksi kejahatan seperti pemerasan hingga hilangnya nyawa semakin banyak terjadi, apalagi pengendara perempuan” buka Siswanto. “Awalnya kami bergerak dengan cara sendiri menyisir jalanan kota Jakarta khususnya wilayah Jakarta Barat. Kami beroperasi pada malam hari dari jam 20.00-02.00 WIB. Setelah mulai banyak simpatisan, terbentuklah SABER,” jelas salah satu pendiri SABER, yang kini menjabat sebagai ketuanya.

Melawan Sindikat Penyebar Paku di Jalanan, “Gerakan ini bermula dari mimpi dan keprihatinan. Mimpi ingin menikmati jalanan aman di Jakarta, sehingga selepas berangkat dan pulang kerja tidak was-was kalau-kalau di jalan kena paku, terlebih pada malam hari. Dan keprihatinan melihat banyaknya sesama pengguna sepeda motor yang terkena ranjau paku, dan harus merogoh kocek yang lumayan besar untuk ganti ban dan minimal tambal ban”, sambung bapak tiga anak yang bekerja di sektor alat-alat berat itu.

Alat-alat yang dipergunakan tim relawan SABER ini seadanya. Magnet bekas speaker aktif menjadi alat utama yang dirangkai dengan plat maupun tali atau tongkat. Alat bantu lainnya yaitu rompi komunitas, lampu Lalu Lintas dan senter. Semua alat-alat itu milik masing-masing anggota. Dan untuk menunjang mobilitas, relawan SABER menggunakan motor pribadi disetiap dinas sosialnya. Bukan hanya memungut ranjau paku saja. SABER dengan suka rela membantu korban kecelakaan, memberi petunjuk pengguna jalan yang salah alamat dan aktifitas jalanan lainnya.

Didukung Pihak Kepolisian dan Walikota Jakbar

Menilik kebelakang sebelum SABER berdiri, saat relawan beroperasi membersihkan paku-paku di jalan. Satu malam bisa mencapai tujuh kilogram melalui rute dari Grogol sampai Monas. “Saat kami bergerak sendiri-sendiri dan belum ada SABER, luar biasa populasi penyebaran paku di Jakarta. Dengan jarak hanya 1,2 km saja kami pernah memungut paku sampai tujuh kilogram” jelas Rohim, wakil ketua SABER. “Alhamdulillah setelah ada SABER, populasi paku makin berkurang. Satu kali menyisir (dilakukan antara 2-6 orang) dari wilayah Daan Mogot sampai Grogol dan sekitarnya kami dapat 1-2 kilo. Paling banyak biasanya kami dapat paku saat malam minggu sekitar 3 kiloan. Setelah terkumpul banyak, paku-paku itu kami jual ke orang yang kami yakini bisa dipercaya dan uangnya kami bagi-bagi untuk menunjang kegiatan SABER” jelas pemilik Yamaha Vega warna hitam itu.

Apa yang dilakukan relawan SABER bukan tanpa hambatan. Menurut Rohim, ada oknum yang menterornya melalui SMS, telepon sampai ancaman saat relawan SABER melakukan aksinya. “Iya, ada saja oknum yang menteror kami yang kami yakini sebagai sindikat penyebar paku yang bekerjasama dengan bengkel tambal ban”, paparnya.

Beruntung, aksi SABER ini telah didukung beberapa pihak yang simpati seperti Polsek Cengkareng, Kanit Serse, Intel, Bimas bahkan Walikota Jakarta Barat (Bapak H. Burhanudin) sendiri mendukung relawan SABER ini dan menjadi Dewan Pelindungnya. “Allah SWT tidak tidur mas. Karena niat kita baik, Alhamdulillah banyak pihak yang mendukung aksi kami” jelas Siswanto yang juga menjelaskan saat ini Sekretariat SABER di Halte Green Garden (arah Kali Deres), Jakarta Barat.

Akhir kata, Siswanto dan Abdurrahim berbagi wilayah rawan ranjau paku. Menurutnya, sebisa mungkin untuk berhati-hati ketika melintasi wilayah rawan paku seperti daerah Jakarta Barat dari Daan Mogot menuju arah Grogol terutama di kanan kiri jalan dan jalur busway. Jakarta Pusat dari Roxy mulai dari fly over sampai Harmony melewati Cideng. Jakarta Timur mulai dari Harapan Indah sampai Cakung dan Pulo Gadung (Jalan Raya Bekasi). Jakarta Selatan, Terowongan Casablanca arah Pondok Bambu dan Kampung Melayu sampai Otista. “Data ini belum sepenuhnya sempurna. Kami masih terus melakukan pengecekan. Harapan kami masyarakat mau membantu keberadaan kami dengan tidak melarang kami saat beroperasi untuk kebaikan bersama”, tutup Siswanto.

Ada beberapa tips ringan ala SABER, bagaimana cara mengantisipasi ranjau paku!

Uniknya setiap paku yang disebar di masing-masing wilayah berbeda-beda. Jakarta Timur dan sekitarnya cenderung menggunakan paku payung (rangka-rangka besi paying yang dipotong sedemikian rupa). Jenis ini termasuk yang paling bahaya. Sebab sekali masuk bisa merobek semua dalaman ban bukan hanya ban dalam saja, ban luar pun bakal cacat. Jakarta Barat dan Pusat cenderung menggunakan paku biasa ukuran 3 cm. Jakarta Selatan lebih banyak menggunakan paku bekas yang sudah dibengkokkan” papar Rohim.

1.    Kontrol Tekanan Angin Ban

Tekanan angin yang semakin berkurang, memudahkan benda tajam menempel dan masuk ke struktur ban luar. “Semakin lembek bannya, maka semakin mudah paku dan alat tajam lainnya masuk ke ban. Makanya penting sekali menjaga tekanan ban. Dan kalau sudah kena ranjau paku, sebaiknya langsung dicabut agar tidak merusak lainnya” jabar Siswanto, Ketua SABER.

2.    Bahayanya Menggunakan Ban Kecil

Ukuran ban yang tidak standar, terutama ban kecil justru banyak dijumpai yang terkena ranjau paku. “Mending pakai ban standar sajalah. Makin kecil ban, banyak dijumpai penggunanya sering nongkrong di tamban ban. Itu artinya ban ukuran itu riskan terkena ranjau paku” timpa Rohim, Wakil SABER.

3.    Kurangi Kecepatan

Ini yang sampai saat ini MotoDream masih mencari pembuktiannya. Namun, menurut Relawan SABER, semakin cepat laju sepeda motor, semakin cepat pula penetrasi benda tajam masuk ke dalam ban.

4.    Ganti Ban

Semua sepakat. Ban yang botak lebih mudah ditembus benda tajam. Selain itu berbahaya juga karena komponnya yang semakin menipis, menjadi mudah tergelincir (licin). Jadi ganti saja tuh bannya.

5.     Cadangan Ban

Kalau sudah ketiba sial, mau bagaimana lagi. Parahnya tukang tamban ban justru akan jual mahal ban dengan kualitas rendah dan merek nggak jelas kepada pengendara. “Mau ya silahkan, nggak mau ya silahkan cari yang lain. Terpaksa beli dah meski mahal. Makanya mending beli cadangan ban sebagai persiapan” jelas Siswanto yang juga diamini Rohim.

Sumber : motodream