STOP Berponsel Saat Berkendara atau Pidana Kurungan Menanti Anda!!

Sebagai salah satu negara dengan pengguna kendaraan bermotor terbesar di dunia, Indonesia memiliki angka kecelakaan yang cukup memprihatinkan. Dimana berdasarkan data kepolisian pada tahun 2011 saja setidaknya 3 jiwa melayang dari 12 kasus kecelakaan yang terjadi setiap jam, dan tidak sedikit diantaranya yang celaka karena disebabkan berponsel ketika berkendara.

Untuk mengurangi angka tersebut, tidak cukup hanya petugas polisi saja yang berperan. Perlu peran serta seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk memangkas fatalitas kecelakaan di jalan, bahkan perlu adanya kebijakan resmi dari pemerintah terkait dengan bahaya berponsel saat berkendara.

Ya, saya setuju perlu adanya kebijakan dari Kementerian Kominfo yang mengharuskan operator seluler untuk aktif mengkampanyekan keselamatan jalan.” ujar Edo Rusyanto, Koordinator SUKJ, di Seminar ‘Setop Berponsel Sambil Berkendara’, yang berlangsung di Aula Serba Guna Gedung Kementerian Kominfo Jakarta, Senin (06/08).

Tidak itu saja, bahwa permintaan pemerintah harus diimplementasikan oleh operator seluler. Maka dari itu Menteri Kominfo Tifatul Sembiring, mengeluarkan Surat No 442/M. KOM INFO/07/2012 tertanggal 30 Juli 2012 tentang Sosialisasi Larangan Penggunaan Perangkat Telekomunikasi Saat Mengemudikan Kendaraan.

Dalam surat tersebut seluruh operator telekomunikasi seluler harus aktif mengkampanyekan pesan keselamatan jalan kepada para pemakai jasa telekomunikasi. Langkah yang harus dilakukan operator adalah:

  • Pertama: dengan pemasangan kotak peringatan “Tidak Berponsel Saat Berkendara” pada semua kartu perdana dan voucher isi ulang layanan seluler.
  • Kedua: pencantuman peringatan tersebut pada iklan luar ruang (papan reklame) dan berbagai media massa.
  • Ketiga: edukasi kepada masyarakat dalam berbagai kegiatan program publik.
  • Keempat: khusus terkait arus mudik Lebaran, operator diminta mengirim SMS broadcast atas nama Kemkominfo yang berisikan: “Jangan menggunakan perangkat telekomunikasi saat mengemudikan kendaraan karna dapat menyebabkan kecelakaan lalu lintas.

Mudik Lebaran tahun 2011, kontribusi kecelakaan karena berponsel memang hanya sekitar 2% dibandingkan faktor human error lainnya. Sekedar informasi saja 84 % dari total kecelakaan di Indonesia adalah karena faktor human error. Kendati hanya 2%, kecelakaan karena berponsel mengalami peningkatan sebesar 1200% dari 2009-2010. Yang lebih mengenaskan kenaikan angka kecelakaan ini hanya terjadi di wilayah DKI saja.

Jika hal ini terus menerus dibiarkan tanpa adanya campur tangan pemerintah dan LSM terkait seperti RSA, niscaya angkanya akan semakin melonjak. Padahal, UU No 22/2009 LLAJ pada pasal 106 secara tegas mengingatkan para pengemudi kendaraan harus berkonsentrasi dan dilarang melakukan aktivitas yang dapat mengganggu konsentrasi (contoh: berponsel baik itu menelpon ataupun SMS). Bagi yang melanggar akan dikenakan denda maksimal Rp 750 ribu atau pidana kurungan penjara selama 3 bulan.

Karena itu, mumpung angkanya masih kecil, mari kita bersama-sama menurunkan angka itu. Jangan tunggu sampai besar,” tambah Ketua Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia Sarwoto Atmosutarno.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Hendro Putroko menjelaskan kalau penggunaan ponsel saat berkendara adalah bahaya laten.

Secara umum kita lihat kalau mengendarai kendaraan itu, entah roda dua dan roda empat harus pakai konsentrasi. Nah, berponsel itu sudah pasti mengurangi konsentrasi pengendara,” ujarnya di Gedung Kominfo.

Turut hadir dalam seminar ini, antara lain  anggota dan pengurus klub/komunitas otomotif, baik dari kalangan roda dua dan roda empat. Demikian pula terlihat kehadiran beberapa perwakilan perusahaan yang peduli dengan keselamatan jalan. Bahkan Gatot S. Dewabroto, Kabag Humas Kemkominfo dari Rio Octaviano, Ketua Umum RSA (Road Safety Association) ikut hadir dan duduk dalam barisan pembicara.

Sumber : stephenlangitan