Sinyal Indra ke-6 : Penampakkan Lorong Goa Jepang

Banyak sekali tempat wisata alam yang ada di Bandung ini, namun objek wisata alam yang menyajikan kisah sejarah perjuangan bangsa Indonesia pada zaman dulu disertai fenomena alam yang indah bisa dinikmati dengan hanya berkunjung ke Taman Hutan Raya Juanda disana terdapat Goa peninggalan zaman penjajahan Jepang yang dinamakan Goa Jepang.

Goa Jepang ini dibangun pada sekitar tahun 1942 saat Jepang masih berkuasa di tanah air indonesia yang tentu saja pembangunannya ini dilakukan dengan sistem Romusha yang pada saat itu Goa ini berfungsi sebagai tempat persembunyian bangsa Jepang.

Untuk menuju ke Goa Jepang dapat berjalan sambil menghirup udara segar, kira – kira sekitar 500 m saja jarak ke Goa Jepang kalau dari arah Dago Pakar, perlu diketahui panjang Goa Jepang ini mencapai 70 m lho.. Dengan adanya empat buah pintu yang saling berhubungan, juga terdapat empat buah kamar didalam Goa Jepang, yang menurut para ahli sejarah kamar – kamar tersebut merupakan tempat istirahatnya para Panglima Tentara Jepang.

Goa Jepang ini merupakan salah satu objek wisata yang selalu ramai dikunjungi para wisatawan yang datang ke Taman Hutan Raya Juanda, bila wisatawan ada yang lupa tidak membawa alat penerangan (senter) untuk masuk ke Goa Jepang ini, tidak perlu kuatir karena di pintu masuk Goa Jepang ada pemandu bayaran yang akan menemani wisatawan dalam Goa Jepang dengan senternya dan bercerita tentang sejarah apa yang ada di Goa Jepang ini sambil mengelilingi Goa Jepang tersebut.

Goa Jepang Sebagai Tempat Tujuan Wisata Mistis

Goa Jepang selain sabagai saksi bisu sejarah perjuangan bangsa Indonesia, bangunan ini juga terkenal angker. Sempat menjadi lokasi uji nyali sebuah televisi swasta kian menambah pamor keangkerannya.

Telah banyak komunitas mistis yang berkunjung serta menggali informasi langsung untuk mengobati rasa penasaran di tempat ini. Berikut ini salah satu petikan cerita perjalanan mistis yang telah dilakukan oleh komunitas yang tergabung dalam team Wisata Mistis.

Awal cerita perjalanan Team Wisata Mistisyang berjumlah 50an peserta melakukan pertemuan dan pengecekan peserta di sekitaran salah satu Kampus ternama di Kota Bandung, sesudah peserta berkumpul semua kami melanjutkan perjalanan menuju lokasi yang kita tuju yaitu Goa Jepang. Tepat pukul 22.00 WIB team WISMIS sampai di lokasi briefing yaitu di Balai Informasi Pengelolaan Taman Hutan Raya Ir.H Djuanda, Dago Pakar. Pada sesi ini Team Wisata Mistiskembali menerang setiap Rules dan SOP yang berlaku dalam setiap Ekspedisi di Wisata Mistis .Setelah merasa cukup akhirnya Team Wisata Mistis melanjutkan berjalan menuju lokasi Goa Jepang yang dipandu langsung Oleh pak Arif(24) sebagai Guide dari pihak balai.

Awal perjalanan menuju Goa Jepang berjarak kurang lebih 400m dari balai informasi, jalan yang dilalui pun juga menegangkan dan bisa membuat kita kencing di celana bila melalui jalan itu sendirian akibat jalan yang begitu sepi, gelap dan juga di setiap jalannya dipenuhi ilalang dan pohon-pohon besar yang membuat hawa terasa berbeda bila melaluinya. Setapak demi setapak jalan ini dilalui dan dalam perjalanan pak Arif pun selaku Guide sempat memberitahukan kepada salah satu rekan kami bahwa tepat jalan yang kita lalui saat ini menuju Goa Jepang merupakan salah satu jalan yang paling ditakuti oleh penjaga perhutani yang melakukan piket, apalagi bila akan melakukan kontrol ke Goa Jepang, mereka jarang memalui tempat ini karena jalannya yang sepi dan cukup menyeramkan, beliau juga menuturkan di sini sering terjadi kegiatan yang berbau mistis seperti terdengar suara wanita menangis, ada teriakan dan lain sebagainya yang membuat adrenalin kita bisa meningkat 360 derajat. Dan memang benar adanya, apa yang Team Wisata Mistis rasakan pun begitu adanya, hawa berbeda dan nuansa yang menyeramkan di sekitaran jalan, tak heran bila tempat ini terlihat begitu menakutkan bagi siapa saja yang melewatinya.

Setelah jalan setapak dilalui akhirnya Team Wisata Mistis sampai juga di Goa Jepang dengan nuansa yang sama menyeramkannya saat tadi berada di perjalanan menuju Goa Jepang.Di awal sesi penelusuran tanpa panjang lebar walaupun dengan suasana berbau mistis kegiatan pun tetap dilanjutkan untuk mengungkap History di balik Goa Jepang dan disini pak Arif selaku Guide menuturkan sambil melalui setiap lorong Goa tersebut “bahwa Setelah Jepang masuk ke Indonesia, tentara Jepang kemudian mengambil alih tempat ini dan membangun Goa lainnya sebagai basis pertahanan mereka tidak jauh dari Goa Belanda. Jepang menggunakan tenaga kerja paksa sehingga konon tidak sedikit korban yang berjatuhan selama pembuatan Goa ini. Saat Jepang menyerah terhadap tentara sekutu, tempat ini adalah pertahanan terakhir bagi tentara Jepang yang ada di Bandung. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, Goa ini pun terlantar, tertutup oleh semak belukar dan hutan. Sampai kemudian ditemukan kembali pada sekitar tahun 1965, konon pada waktu itu masih banyak ditemukan sisa-sisa peninggalan tentara Jepang seperti senjata dan amunisi di dalamnya”, ujur beliau. Dan selain itu pak Arif juga sempat menyampaikan bahwa Goa Jepang ini belum 100 % karena keburu Jepang menyerah terhadap tentara sekutu dan meninggalkan Goa ini. Bila dibandingkan dengan kondisi Goa Belanda, Goa Belanda memang jauh lebih baik dari Goa Jepang ini. Selain memang Goa Belanda sudah mengalami beberapa kali direnovasi, kondisi Goa ini memang berbeda, Goa Jepang sepertinya belum 100% selesai pengerjaannya, sehingga masih ditemukan terowongan-terowongan yang terlihat setengah jalan. Kondisi Goa Jepang juga dibiarkan seperti aslinya, beberapa kelelawar terlihat tinggal di langit-langit Goa, sedangkan di dalam lorong Goa Belanda permukaannya sudah dilapisi semen.

Begitu dirasa cukup kegiatan pun dilanjutkan dengan penelusuran secara metafisik dimana dalam sesi ini dibagi ke dalam beberapa kelompok yang terdiri dari 7 orang yang didamping oleh 2 orang team metafisik dan 2 orang team dokumentasi yang bertujuan untuk menceritakan langsung aktivitas mistis apa saja yang terjadi di dalam Goa. Pada sesi ini team metafisik yang diwakil Deri (22) menjelaskan secara aktivitas memang cukup padat dan bila dilihat dari kacamata supra terlihat berbagai macam jenis makhluk astral seperti kakek tua,anak kecil,laki-laki tinggi dengan muka yang rusak dan berbagai macam mahkluk astral lainya yang bisa membuat bulukuduk kita berdiri.Selain melakukan penelusuran Mistis, kami juga sempat menanyakan soal mitos di Goa Jepang, dan ternyata hampir sama dengan mitos yang ada di lingkungan Dago Pakar. Memang mitos tidak boleh menyebutkan Lada atau dalam bahasa Indonesia berarti pedas sebagai pantanganya, dikarenakan itu adalah nama dari salah satu leluhur di daerah itu yang sangat disakralkan. Setelah mendapat informasi secara jelas soal Goa Jepang kami pun melakukan share pangalaman di ekspedisi Goa Jepang kepada para peserta dan melakuakn doa bersama untuk mengakhir aktivitas Ekspedisi Goa Jepang.

Dan dapat diambil kesimpulan bahwasanya kita harus menghargai setiap coretan sejarah yang terdapat di negeri ini karena setiap coretan itu mengandung perjuangan yang begitu besar dari para pendahulu kita di negeri kita Indonesia ini,dan mengenai mitos lada merupakan salah satu yang harus kita hargai sebagi salah satu kepercayaan warga setempat dan soal benar tidaknya itu urusan Tuhan Yang Maha Esa.”

Sumber : wisatamistis