Masterplan MotoGP Indonesia Ditunggu Sampai Januari 2016

032578600_1445514076-Sentul_08JakartaIndonesia tengah membidik menjadi tuan rumah MotoGP 2017. Meski belum dipastikan sirkuit yang akan digunakan, namun pemerintah Indonesia sudah ditunggu sejumlah hal krusial pada Januari mendatang.

Tiga hal itu adalah masterplan, kontrak antara Indonesia dengan Dorna Sport SL selaku operator MotoGP, dan Keputusan Presiden. Demikian keterangan itu disampaikan Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Gatot S Dewa Broto, di Kantor Kemenpora, Selasa (24/11/2015).

Setelah penandatangan Letter of Intent (LOI) yang dilakukan Menpora Imam Nahrawi pada Rabu (18/11/2015) kemarin, Indonesia bersiap ke langkah selanjutnya yakni penandatanganan kontrak antara Dorna Sport SL.

Namun penandatangan itu tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada masterplan (induk perencanaan) dan juga Keputusan Presiden yang menjadi landasan hukum pemerintah untuk bisa menggelar ajang ini.

Sebab, penyelenggaraan balap motor dunia ini sedikit berbeda dengan penyelenggaraan olahraga lainnya, di mana pemerintah menggunakan sirkuit milik swasta dengan penyelenggaraan atas nama negara.

“Kami belum dapat laporan dari acara di Federasi Balap Motor Dunia (FIM) di Wina. Karena yang hadir itu IMI (Ikatan Motor Indonesia). Kami tidak tahu apakah LOI (Letter of Intent) yang kemarin kami kirim sudah dibaca atau belum, karena janji Dorna dibacakan saat kongres FIM,” kata Gatot.

Sementara status Sirkuit Sentul sebagai kandidat venue penyelenggaraan MotoGP Indonesia, Gatot kembali menegaskan jika di dalam isi LOI tidak ada menyebut nama sirkuit. Tinton Soeprapto sebagai pengelola sirkuit sudah merencanakan akan mulai membongkar sejumlah bangunan di sekitar sirkuit pada awal Desember mendatang.

“Di LOI tidak disebutkan tempatnya. LOI hanya menyebut Indonesia. Masalah renovasi? Itu hak bapak Tinton karena memang kami akui masterplan disuplai oleh Pak Tinton. Tapi di LOI tidak menyebut lokasi khusus karena Dorna cuma mengatakan yang penting ada keseriusan Indonesia. Yang penting Indonesia,” pungkasnya.

Sumber

Tinggalkan Balasan