Sejarah Pembangunan Kereta Shinkansen Jepang

Dalam dunia transportasi, Jepang dikenal sebagai negara pelopor sistem kereta api kecepatan tinggi di dunia. Sistem kereta api ini dikenal dengan nama shinkansen. Kereta yang digunakan untuk melayani jalur sistem shinkansen adalah kereta yang dijuluki “kereta peluru”.

Selain karena awalnya desain bentuknya mirip dengan peluru, dinamai demikian juga karena kereta jenis ini memang mampu berlari dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kereta peluru pertama model paling pertama saja mampu berlari dengan kecepatan maksimum 220 km/jam. Sementara model-model yang diproduksi baru-baru ini mampu mencapai kecepatan 300 km/jam bahkan lebih.

Shinkansen-1

Bagaimana sejarah asal pembuatan kereta peluru dan sistem shinkansen ini? Berikut ini ulasan sejarah perkembangan kereta peluru dan sistem shinkansen, kereta tercepat dari Jepang.

Dangan Ressha: Prakarsa Shinkansen

Meskipun pengembangan penuh proyek Shinkansen baru dimulai secara serius pada dekade 1950-an, sebenarnya ide tentang pembangunan suatu sistem kereta api berkecepatan tinggi sudah lahir di Jepang sejak dekade pertama abad XX.

Gagasan kereta cepat ini dimunculkan karena negeri Jepang pada masa itu sedang mengalami perkembangan pembangunan yang pesat baik secara ekonomi, industri, dan politik, juga karena usaha ekspansionisme Jepang melebarkan kekuasaan kekaisaran hingga ke tanah-tanah negeri tetangganya terbilang sukses.

Shinkansen-2

April 1895, Perang Jepang-Tiongkok berakhir dan dimenangi telak oleh Jepang. Akhir dari perang ini menjadi pelopor dominansi kekuatan Jepang di Semenanjung Korea dan Manchuria.

September 1905, Jepang memenangi Perang Jepang-Rusia yang mengukuhkan dominasi tersebut dari dua negara sekaligus: Tiongkok yang telah kehilangan kepercayaan terhadap generasi kekaisarannya serta Rusia yang kelewat percaya diri akan kekuatan militernya.

Densha model 40 series buatan tahun 1926

Dengan tercakupnya wilayah baru yang luas ini ke dalam genggaman Jepang, Jepang membutuhkan sebuah sarana transportasi yang mampu membawa penumpang atau barang dalam jumlah banyak dan dalam waktu singkat.

Transportasi tersebut tentunya harus memiliki kecepatan tinggi untuk mencapai kapasitas layanan yang besar. Lagipula, pada awal abad XX, orang-orang sedang terobsesi dalam hal “kecepatan”.

Namun begitu, Perang Dunia II terlanjur pecah lebih dulu akibat penyerangan tiba-tiba angkatan perang Jepang ke pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di Pearl Harbor.

Selain itu pada Juli 1937, Perang Jepang-Tiongkok II pun pecah. Ketika Jepang perlahan-lahan mulai kehilangan dominansi dan kekuatan di Asia akibat ditekan oleh kekalahan demi kekalahan dalam ekspansionismenya, proyek dangan ressha pun perlahan kehilangan bunyi dan akhirnya tak jadi dieksekusi.

Dibangkitkan Kembali sebagai Shinkansen

Setelah dilupakan beberapa tahun, ide tentang jalur khusus kereta api cepat kembali dibangkitkan pada dekade 1950-an karena kepadatan lalu lintas barang dan penumpang sepanjang jalur utama kereta Toukaidou meningkat drastis.

Peningkatan ini didorong oleh suksesnya rekonstruksi ekonomi dan industri Jepang, yang juga didorong secara tidak langsung oleh berlangsungnya Perang Korea dan Perang Dingin. Saking tingginya lalu lintas perkereta-apian saat itu, sering terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban yang tidak sedikit.

Disusunlah tiga pilihan rencana. Rencana pertama adalah membangun jalur tambahan sejajar dengan jalur Toukaidou yang sudah ada. Rencana kedua adalah menambah panjang jalur Toukaidou dari Tokyo ke Osaka.

Rencana ketiga adalah membangun jalur baru dengan spesifikasi lebar rel yang berbeda. Pilihan ketiga diambil, dengan tujuan utama jalur ini bisa digunakan untuk sistem kereta api cepat yang kecepatannya lebih tinggi daripada kecepatan standar kereta lain pada masa itu.

Sougou Shinji, pelopor proyek Shinkansen

Dua orang penting yang mengawal realisasi dan eksekusi proyek Shinkansen adalah Shima Hideo dan Sogou Shinji. Shima Hideo adalah seorang insinyur, anak dari Shima Yasujirou, orang yang mengembangkan perencanaan proyek Shinkansen di masa Perang Dunia II.

Sogou Shinji adalah presiden direktur JNR, pimpinan perusahaan kereta api nasional Jepang yang juga berusaha meyakinkan para politisi untuk mendukung pelaksanaan proyek ini. Sogou juga berhasil meyakinkan IBRD (Internasional Bank for Recovery and Development) untuk mendukung keperluan finansial proyek ini.

Pemerintah memberikan lampu hijau untuk proyek shinkansen pada Desember 1958. Konstruksi tahap pertama jalur Toukaidou shinkansen antara Tokyo—Osaka dimulai April 1959. Pada 1963 kereta khusus shinkansen pertama, zero-kei (0-ç³») dibangun dan diselesaikan. Kereta ini mampu berlari hingga 220 km/jam. Sebanyak 3.216 set dibuat sejak 1963 dan terakhir digunakan November 2008.

Toukaidou Shinkansen mulai beroperasi pada 1 Oktober 1964, bertepatan dengan acara Olimpiade Tokyo. Kereta biasa membutuhkan waktu nyaris tujuh jam untuk mencapai jarak Tokyo—Osaka sedangkan kereta shinkansen bisa menempuhnya dalam waktu 3 jam 10 menit. Prestasi ini mengakibatkan popularitas shinkansen.

Shinkansen W7 Series

Saat ini shinkansen memiliki enam jalur utama, yaitu:

  1. Jalur Toukaidou, dari stasiun Tokyo sampai Shin-Osaka.

  2. Jalur Sanyou, dari stasiun Shin-Osaka sampai Hakata

  3. Jalur Touhoku, dari Tokyo sampai Shin-Aomori

  4. Jalur Jouetsu, dari stasiun Oumiya sampai Niigata

  5. Jalur Hokuriku, dari Takasaki sampai Kanazawa

  6. Jalur Kyushu, dari Hakata sampai Kagoshima-Chuuou

Selain menjadi sarana transportasi unggulan di Jepang, sistem Shinkansen juga telah menjadi ikon negara Jepang.

Gambaran tentang kereta peluru yang melintas di depan Gunung Fuji adalah salah satu pencitraan ikonik tentang Jepang. Jika Anda berencana untuk mengunjungi Jepang, mencoba layanan Shinkansen adalah hal yang wajib dilakukan.

Shinkansen melintas di depan Fuji-san

Dengan harga tiket sekitar 800 sampai 8.000 Yen, Anda bisa merasakan pengalaman mengendarai salah satu kereta tercepat di dunia. Tetapi hindarkan bepergian di akhir pekan, karena dijamin kereta bakal penuh.

Banyak orang kota yang berlibur ke pinggiran kota, ke pedesaan, atau pulang sejenak ke kampung halaman untuk melepas penat dengan kereta Shinkansen karena selain cepat, harganya lebih ekonomis daripada moda transportasi lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s