Sering Dianggap Sepele, Berikut Kebiasaan yang Bisa Memicu Kecelakaan Lalu Lintas

Keamanan, kepatuhan dan kelengkapan berkendara saat mengemudikan kendaraan di jalan raya seringkali dianggap sebagai hal sepele oleh sebagian besar orang.

Padahal, data Korlantas Polri menyebutkan, selama rentan 1 Oktober 2016 sampai 31 Desember 2016 terjadi 25.409 kecelakaan lalu lintas (laka lantas) di Indonesia.

Angka itu tentu saja sangat besar sekaligus memprihatinkan dan mencerminkan masih rendahnya kesadaran kita berlalu lintas.

Tidak memiliki SIM atau STNK, mengendarai kendaraan melanggar batas kecepatan, mengemudi sambil melakukan kegiatan lain, merupakan jenis-jenis pelanggaran tertinggi yang dilakukan pengendara berdasar hasil temuan polisi.

Seperti terjadi di Medan beberapa waktu lalu. Tribun Medan melansir, seorang pengendara mobil terperosok ke got, Selasa (7/3/2017) karena sibuk menelepon saat mengemudi.

AKtivitas itu membuat pengemudi tidak berkonsentrasi di jalan.

Selain mencelakakan diri sendiri, pelanggaran berlalu lintas juga merugikan orang lain.

Laka lantas menyebabkan dua dari tiga korban asal Pance, Gresik, Jawa Timur tewas ditabrak pengendara mobil yang melaju zigzag di Bandung, Jumat (24/2/2017).

Kedua korban, Hakimul Aden W (14) dan Alfan Bagus S (14) tewas seketika karena kepalanya mengalami luka berat akibat benturan keras.

Sementara pengendara motor lain Pinky Chilman (14) mengalami patah tulang betis kiri dan tangan kiri.

Agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain, kebiasaan disiplin baik dalam berlalu lintas perlu terus diingatkan dan dibiasakan serta perlu dimulai dari diri sendiri.

Kebiasaan berdisiplin di jalan raya, sabar menghadapi berbagai kondisi jalan akan menciptakan ‘peace of mind’ pada diri kita. Yakni, perasaan nyaman dan aman selama mengemudi.

Fokus saat menyetir dan menggunakan sabuk pengaman saat berkendara bisa menciptakan 'Peace of Mind' pada pengendara ketika berada di jalan.
Fokus saat menyetir dan menggunakan sabuk pengaman saat berkendara bisa menciptakan ‘peace of mind’ pada pengendara ketika berada di jalan. (dok. Garda Oto)

 

“Menciptakan peace of mind ini sangatlah penting, dengan begitu kita bisa berkonsentrasi dalam berkendara dan bisa merasa aman serta tidak merugikan diri sendiri juga orang lain,” ungkap L. Iwan Pranoto, Head of Communication and Event Asuransi Astra.

Setelah dimulai dari diri sendiri, efektif, kebiasaan berkendara baik ini juga perlu ditularkan kepada orang lain.

Misalnya, melalui kampaye #1klik1kebaikan. Program #1klik1kebaikan mendukung kampanye keselamatan berkendara grup Astra “Indonesia Ayo Aman Berlalu Lintas” (IAABL) yang menyasar pengendara usia muda sampai dewasa.

Melalui kampaye ini para pengguna jalan diharapkan semakin patuh terhadap peraturan lalu lintas dan menerapkan prosedur berkendara yang benar. Pada akhirnya ikut berkontribusi menurunkan angka laka lantas di Indonesia.

Pemberlakuan Wajib Helm SNI Bagi Pengendara Sepeda Motor

Mulai 1 April 2010 kemarin, pengendara sepeda motor di seluruh Indonesia wajib mengenakan helm SNI (Standar Nasional Indonesia). Pewajiban yang diamanatkan UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) dilaksanakan setelah hampir setahun sejak UU disahkan presiden, 22 Juni 2009.

Pasal 106 ayat 8 menyebutkan, “Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor dan penumpang sepeda motor wajib mengenakan helm yang memenuhi standar SNI. Pemberlakuan helm SNI itu otomatis disertai sanksi pidana bagi yang melanggar.”

Pasal 291 ayat 1 menyebutkan, “Setiap orang yang mengemudikan sepeda motor tidak mengenakan helm SNI sebagaimana dimaksud Pasal 106 ayat 8, dipidana kurungan paling lama sebulan atau denda paling banyak Rp 250 ribu”.

Tak hanya pengendara wajib helm SNI, pengemudi yang membiarkan orang yang diboncengnya tak mengenakan helm SNI, terancam pidana kurungan yang sama yaitu paling lama sebulan atau denda Rp 250 ribu.

Kualifikasi Helm yang memenuhi standar SNI
Seperti dikutip dari detikoto.com, helm yang memenuhi standar SNI adalah helm yang memenuhi kualifikasi material dan konstruksi.

Material Helm

  1. Dibuat dari bahan yang kuat dan bukan logam, tidak berubah jika ditempatkan di ruang terbuka pada suhu 0 derajat Celsius sampai 55 derajat Celsius selama paling sedikit 4 jam dan tidak terpengaruh oleh radiasi ultra violet, serta harus tahan dari akibat pengaruh bensin, minyak, sabun, air, deterjen dan pembersih lainnya.
  2. Bahan pelengkap helm harus tahan lapuk, tahan air dan tidak dapat terpengaruh oleh perubahan suhu.
  3. Bahan-bahan yang bersentuhan dengan tubuh tidak boleh terbuat dari bahan yang dapat menyebabkan iritasi atau penyakit pada kulit, dan tidak mengurangi kekuatan terhadap benturan maupun perubahan fisik sebagai akibat dari bersentuhan langsung dengan keringat, minyak dan lemak si pemakai.

Konstruksi Helm

  1. Helm harus terdiri dari tempurung keras dengan permukaan halus, lapisan peredam benturan dan tali pengikat ke dagu.
  2. Tinggi helm sekurang-kurangnya 114 milimeter diukur dari puncak helm ke bidang utama yaitu bidang horizontal yang melalui lubang telinga dan bagian bawah dari dudukan bola mata.
  3. Tempurung terbuat dari bahan yang keras, sama tebal dan homogen kemampuannya, tidak menyatu dengan pelindung muka dan mata serta tidak boleh mempunyai penguatan setempat.
  4. Peredam benturan terdiri dari lapisan peredam kejut yang dipasang pada permukaan bagian dalam tempurung dengan tebal sekurang-kurangnya 10 milimeter dan jaring helm atau konstruksi lain yang berfungsi seperti jaring helm.
  5. Tali pengikat dagu lebarnya minimum 20 milimeter dan harus benar-benar berfungsi sebagai pengikat helm ketika dikenakan di kepala dan dilengkapi dengan penutup telinga dan tengkuk.
  6. Tempurung tidak boleh ada tonjolan keluar yang tingginya melebihi 5 milimeter dari permukaan luar tempurung dan setiap tonjolan harus ditutupi dengan bahan lunak dan tidak boleh ada bagian tepi yang tajam.
  7. Lebar sudut pandang sekeliling sekurang-kurangnya 105 derajat pada tiap sisi dan sudut pandang vertikal sekurang-kurangnya 30 derajat di atas dan 45 derajat di bawah bidang utama.
  8. Helm harus dilengkapi dengan pelindung telinga, penutup leher, pet yang bisa dipindahkan, tameng atau tutup dagu.
  9. Memiliki daerah pelindung helm.
  10. Helm tidak boleh mempengaruhi fungsi aura dari pengguna terhadap suatu bahaya. Lubang ventilasi dipasang pada tempurung sedemikian rupa sehingga dapat mempertahankan temperatur pada ruang antara kepala dan tempurung.
  11. Setiap penonjolan ujung dari paku/keling harus berupa lengkungan dan tidak boleh menonjol lebih dari 2 mm dari permukaan luar tempurung.
  12. Helm harus dapat dipertahankan di atas kepala pengguna dengan kuat melalui atau menggunakan tali dengan cara mengaitkan di bawah dagu atau melewati tali pemegang di bawah dagu yang dihubungkan dengan tempurung.

Berikut merupakan daftar sementara helm SNI yang dikeluarkan oleh Traffic Management Centre Polda Metro Jaya Jakarta :

  1. NHK
  2. GM
  3. VOG
  4. MAZ
  5. MIX
  6. INK
  7. KYT
  8. MDS
  9. BMC
  10. HIU
  11. JPN
  12. BESTI
  13. CROSX
  14. SMI
  15. SHC
  16. OTOKOGI
  17. CABERG
  18. HBC
  19. Cargloss Helmet

Sementara helm-helm bermerek terkenal yang belum memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) antara lain :

  1. Nolan
  2. Arai
  3. AGV
  4. Shoei
  5. Shark
  6. KBC

Belok Kiri Tidak Boleh langsung Lagi

Di Indonesia sejak diberlakukannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, para pengguna kendaraan kini harus mengikuti lampu lalu lintas bila hendak belok kiri di persimpangan jalan yang dilengkapi dengan Traffic Light. Jika sebelumnya berdasarkan Undang Undang Nomor 14 Tahun 1992 memperkenankan belok kiri boleh langsung, maka berdasarkan Undang Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, hal tersebut tidak lagi diperkenankan!. Pasal 112 Ayat 33 berbunyi, “Pada persimpangan jalan yang dilengkapi dengan APIL, pengemudi kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh rambu lalu lintas atau APIL.” Sistem ini telah diterapkan dibeberapa negara seperti dibeberapa negara bagian Amerika Serikat, di New York sebagai contoh belok kanan langsung dilarang kecuali dibolehkan dengan rambu, di Kanada dimana belok kanan langsung hanya dapat dilakukan setelah berhenti sejenak dan kalau kosong baru belok kekanan. Ada beberapa isu yang timbul dengan kebijakan belok kiri langsung antara lain:

  • Kesulitan di dalam pemograman lampu lalu lintas
  • Meningkatnya peluang terjadinya kecelakaan lalu-lintas terutama bila hak utama pengguna jalan diabaikan, termasuk terhadap pejalan kaki.
  • Dapat meningkatkan kapasitas persimpangan.
  • Kesulitan bagi pejalan kaki yang menyeberang di persimpangan.

Pelarangan Belok Kiri Langsung Dengan diterapkannya UU No 22 Tahun 2009 mengubah peraturan belok kiri dalam lalu lintas. Semula aturan belok kiri boleh langsung, namun dengan UU baru tersebut aturan belok kiri langsung telah dicabut. Menurut UU yang baru diberlakukan tersebut, bagi pelanggar akan ditindak tegas, ditilang dan dikenakan denda sebesar Rp 250 ribu. Sumber : Wikipedia